Stepanakert
| |
---|---|
![]() Dari kiri atas: Katedral Bunda Maria Lapangan Renaisans • Pusat kota Stepanakert Bandar Udara Stepanakert • Kaki langit Stepanakert Park Hotel Artsakh • We Are Our Mountains Universitas Artsakh • Monumen Kemenangan | |
Lokasi Stepanakert/Khankendi di Azerbaijan dan Wilayah Ekonomi Karabakh. | |
Koordinat: 39°48′55″N 46°45′7″E / 39.81528°N 46.75194°E | |
Negara | Azerbaijan |
Wilayah | Karabakh |
Status kota | 1940[1] |
Luas | |
• Total | 29,12 km2 (11,24 sq mi) |
Ketinggian | 813 m (2,667 ft) |
Populasi (2024)[2] | |
• Total | 0 |
• Kepadatan | 0,0/km2 (0,0/sq mi) |
Zona waktu | UTC+4 (GMT+4) |
Kode area telepon | +994 26 |
Sumber: Luas dan jumlah penduduk kota Stepanakert[3] |
Stepanakert (bahasa Armenia: Ստեփանակերտ, translit. Step'anakert, pelafalan Timur: [stɛpʰɑnɑˈkɛɾt]) atau Khankendi (bahasa Azerbaijan: Xankəndi, dibaca [xɑnkænˈdi] ⓘ) adalah sebuah kota di Wilayah Ekonomi Karabakh, Azerbaijan, di wilayah Nagorno-Karabakh. Kota ini terletak di sebuah lembah di lereng timur pegunungan Karabakh, di tepi kiri sungai Qarqarçay (Karkar).[4]
Kawasan yang kemudian menjadi Stepanakert awalnya merupakan sebuah permukiman Armenia bernama Vararakn.[5] Selama era Uni Soviet, kota ini berfungsi sebagai ibu kota Oblast Otonom Nagorno-Karabakh di dalam Republik Sosialis Soviet Azerbaijan, menjadi pusat ekonomi dan aktivitas industrial.[1] Kota ini sebagian besar penduduknya adalah etnis Armenia, dengan kehadiran minoritas etnis Azerbaijan. Kota ini menjadi sarang aktivitas politik, berfungsi sebagai pusat demonstrasi etnis Armenia yang menginginkan unifikasi Nagorno-Karabakh dengan Armenia. Stepanakert mengalami kerusakan yang luas mengikuti pembubaran Uni Soviet dan pecahnya Perang Nagorno-Karabakh Pertama dan dikuasai oleh penduduk Armenia setempat dengan berdirinya Republik Artsakh pada tahun 1994. Kota ini merupakan ibu Republik Artsakh selama eksistensinya dari 1994 hingga 2023.
Pada September 2023, pasukan Azerbaijan menguasai teritori Republik Artsakh, termasuk Stepanakert. Hampir seluruh penduduknya melarikan diri ke Armenia karena mengkhawatirkan keselamatan mereka di bawah pemerintahan Azerbaijan.[6][7] Kota ini sekarang tidak berpenghuni; presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menyatakan kota ini akan direpopulasi oleh etnis Azerbaijan pada tahun 2024.[2]
Sebelum diambil alih oleh Azerbaijan, kota ini merupakan pusat pendidikan dan budaya wilayah tersebut, rumah bagi Universitas Artsakh, sekolah musik, dan istana budaya. Ekonominya berbasis pada industri layanan dan memiliki beragam perusahaan, pengolahan makanan, pembuatan anggur, dan tenun sutra menjadi yang paling penting.[4]
<ref>
tidak sah;
tidak ditemukan teks untuk ref bernama Vararakn